PASAMAN (LN) — Keberanian Nenek Saudah (68) berujung duka. Warga Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman ini menjadi korban penganiayaan berat setelah berupaya menghentikan aktivitas tambang emas ilegal yang merambah lahan miliknya pada awal Januari 2026 lalu, mendapatkan perhatian dari Ketua LKAAM Sumbar.
Kondisi Korban: Luka Fisik dan Trauma Mendalam
Hingga pertengahan Januari 2026, kondisi Nenek Saudah dilaporkan masih dalam masa pemulihan yang memprihatinkan. Saat kejadian, korban dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi:
- Luka parah di bagian wajah dengan kedua mata membiru (lebam).
- Nyeri hebat di sekujur tubuh akibat hantaman benda tumpul dan lemparan batu.
- Trauma psikologis berat yang masih membekas hingga saat ini.
Penanganan Hukum dan Polemik Motif
Polres Pasaman bergerak cepat dengan mengamankan seorang pelaku berinisial RF. Namun, kasus ini menyisakan tanda tanya besar terkait kronologi kejadian.
Pihak kepolisian sempat menyebutkan adanya dugaan konflik internal keluarga sebagai motif utama. Sebaliknya, keterangan dari pihak korban menegaskan bahwa Nenek Saudah dikeroyok oleh banyak orang karena menghalangi aktivitas tambang ilegal di tanahnya. Penyelidikan intensif terus dilakukan untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik perbedaan keterangan tersebut.
Reaksi Keras Ketua LKAAM Sumbar
Kasus ini memicu kemarahan tokoh masyarakat Sumatera Barat. Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Fauzi Bahar Datuak Sati, turun langsung ke Pasaman untuk menjenguk korban.
Fauzi mengutuk keras tindakan keji tersebut dan menduga kuat adanya keterlibatan jaringan pembeking tambang emas ilegal yang merasa terganggu oleh aksi heroik Nenek Saudah.
"Saya selaku Ketua LKAAM Sumatera Barat mengutuk keras apa yang dilakukan terhadap Nenek Saudah. Beliau adalah sosok luar biasa; meski seorang perempuan lanjut usia, beliau berani pasang badan menghentikan tambang ilegal di lahannya sendiri," tegas Fauzi Bahar.
Di sela kunjungannya, Nenek Saudah menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas dukungan moral dari Ketua LKAAM Sumbar. Kehadiran tokoh masyarakat ini menjadi secercah harapan bagi korban di tengah perjuangannya mencari keadilan.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas siapa saja aktor di balik penganiayaan ini dan menindak tegas aktivitas tambang ilegal yang meresahkan di wilayah Pasaman.
(Ade/LN)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar