SOLOK (LN) – Di tengah pesatnya arus teknologi dan dinamika ekonomi yang kian kompleks, Provinsi Sumatera Barat menghadapi tantangan serius terkait peningkatan angka Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).
Menanggapi hal tersebut, UPTD Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Andam Dewi Solok memperkuat posisinya sebagai institusi rujukan dalam rehabilitasi sosial bagi perempuan yang melanggar Perda Penyakit Masyarakat (Pekat) maupun mereka yang rentan secara sosial ekonomi.
Kepala UPTD PSKW Andam Dewi Solok, Djefrizal Amir, S.Sos, menyatakan bahwa rehabilitasi yang dilakukan bukan sekadar bersifat punitif atau hukuman, melainkan sebuah upaya sistematis untuk mengembalikan fungsi sosial individu di tengah masyarakat.
PSKW Andam Dewi menerapkan model rehabilitasi holistik yang mencakup sembilan instrumen pembinaan utama untuk memastikan perubahan perilaku dan peningkatan kapasitas diri para penerima manfaat:
- Penguatan Spiritual: Bimbingan mental dan moral untuk ketenangan batin.
- Rekonstruksi Sosial: Pemahaman norma sosial dan etika pergaulan yang sehat.
- Vokasional (Life Skills): Pelatihan praktis menjahit, tata boga, dan kerajinan tangan sebagai modal ekonomi.
- Agrobisnis & Kewirausahaan: Pembekalan manajemen usaha mandiri dan strategi pengelolaan lahan pertanian.
- Intervensi Psikososial: Layanan konseling mendalam untuk mengatasi trauma dan membangun rasa percaya diri.
- Internalisasi Budaya: Penanaman nilai-nilai luhur Minangkabau guna mengembalikan peran perempuan sebagai Bundo Kanduang.
- Kemandirian & Tanggung Jawab: Pembentukan karakter disiplin dalam kehidupan sehari-hari.
- Wawasan Kebangsaan: Sinergi dengan Koramil (Babinsa) untuk menanamkan jiwa bela negara.
- Keamanan & Ketertiban: Kolaborasi dengan Kepolisian (Bhabinkamtibmas) terkait kesadaran hukum.
Menghadapi Tantangan Anggaran dengan Strategi Adaptif
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar. Namun, Djefrizal Amir tidak menampik bahwa dinamika kebijakan pusat terkait efisiensi anggaran menjadi tantangan tersendiri bagi operasional panti.
"Di tengah keterbatasan anggaran, kami tetap berkomitmen menjalankan amanah. Refleksi dan evaluasi berkala menjadi kunci agar program tetap adaptif, efisien, namun tetap memberikan dampak nyata (impactful) bagi peserta," tegas Djefrizal.
Data Pelayanan dan Output Program
Program rehabilitasi ini menyasar kelompok perempuan yang terjaring hasil penjangkauan tim penegak Perda di tingkat Kabupaten/Kota se-Sumatera Barat, serta rujukan resmi dari pihak keluarga melalui rekomendasi Dinas Sosial setempat.
Selain pembinaan inti, panti juga menerapkan Kegiatan Penunjang yang terukur, meliputi:
- Kesehatan Fisik: Olahraga rutin dan pemeriksaan kesehatan berkala untuk membentuk pola hidup sehat.
- Praktik Lapangan: Implementasi langsung keterampilan di bidang pertanian dan perikanan.
- Monitoring & Evaluasi: Penilaian berkala dari aspek mental, sosial, dan keterampilan sebagai dasar menentukan langkah tindak lanjut bagi peserta setelah selesai masa pembinaan.
Harapan Masa Depan: Kembali Sebagai Bundo Kanduang
Target akhir dari seluruh rangkaian ini adalah terwujudnya harapan agar para perempuan peserta pembinaan dapat kembali ke tengah masyarakat dengan status sosial yang baru. Dengan bekal keterampilan dan penguatan nilai budaya, mereka diharapkan tidak lagi terjebak dalam perilaku asusila atau menjadi gelandangan dan pengemis.
"Kami ingin mereka kembali menjadi teladan dalam keluarga. Menjadi perempuan yang berakhlak, bijaksana, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi," pungkas Djefrizal.
Melalui pengawasan ketat dari lembaga internal maupun eksternal, UPTD PSKW Andam Dewi Solok terus berupaya menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah perempuan Minangkabau di tengah gempuran perubahan zaman.
Editor: Redaksi




Tidak ada komentar:
Posting Komentar