PAYAKUMBUH (LN) — Pascaterbongkarnya dugaan manipulasi manifes dan hari fiktif perjalanan dinas di lingkungan Sekretariat DPRD Kota Payakumbuh senilai Rp848,5 juta, jagat maya langsung bergolak. Gelombang kemarahan publik tak terbendung di berbagai platform media sosial, terutama di grup-grup diskusi Facebook warga Payakumbuh.
Masyarakat meluapkan kekecewaan mendalam terhadap tabiat para wakil rakyat yang tega menguras uang rakyat di tengah impitan ekonomi. Kekecewaan ini tergambar dari ratusan komentar yang bernada sinis, geram, hingga desakan agar aparat penegak hukum segera bertindak.
Baca berita sebelumnya :
Sinis terhadap Fungsi Anggota Dewan
Pantauan tim investigasi di media sosial menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang merosot tajam. Sejumlah netizen secara terang-terangan mempertanyakan esensi keberadaan lembaga legislatif daerah tersebut.
Akun bernama Roys Staa meluapkan kekesalannya dengan menulis, "Tanyo ciek sanak....apo fungsinya kiniko dpr ko....kalau dek awak pribadi dak do fungsinya dpr ko..nan ka mahabihkan pitih rakyat se dpr ko nyo..kalau awak nio bubar kan se dpr ko pai" (Tanya satu saudara... apa fungsinya DPRD sekarang ini? Kalau bagi saya pribadi tidak ada fungsinya. Hanya menghabiskan uang rakyat saja kerja DPRD ini. Kalau saya, ingin dibubarkan saja).
Sinis serupa juga dilontarkan oleh Alim Muslim yang menimpali, "lai fungsinya ma habihan pitih" (ada fungsinya, menghabiskan uang). Sementara akun Kuray Senja menyindir dengan nada sarkas, "KAn Lah jaleh fungsi nyo ko... Iko lah salah satu nYo" (Kan sudah jelas fungsinya... Ini [manipulasi anggaran] adalah salah satunya).
Netizen juga menyoroti perubahan sikap para politisi sebelum dan sesudah terpilih. Akun Bianglala Ilalang mengungkapkan kekecewaannya secara mendalam, "Bana dan mereka tu banyak nan Ndak tau batarimo kasih dulu marayu3 mintak tolong dipilih lah tapiliah Ndak kenal lai urang mausahaonnyo duduk jadi anggota dewan..." (Benar, dan mereka itu banyak yang tidak tahu terima kasih. Dulu merayu-rayu minta tolong dipilih, setelah terpilih tidak kenal lagi pada orang yang mengusahakan mereka duduk jadi anggota dewan).
Desakan Penegakan Hukum dan Mosi Tidak Percaya
Kegeraman publik tidak berhenti pada sindiran. Sentimen mosi tidak percaya mulai bermunculan seiring tuntutan agar kasus ini tidak diselesaikan di bawah meja atau sekadar melalui pengembalian administratif.
Akun Amelia Amelia secara terbuka menantang keberanian aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas keterlibatan para anggota dewan. "Anggota dewan pyk ko ,lun pernah tersentuh hukum lai,cubo sia lai barani kini ko,wak sokong samo samo,,,bagi yg talok mambukak,,," (Anggota dewan Payakumbuh ini belum pernah tersentuh hukum. Coba siapa lagi yang berani sekarang, kita dukung sama-sama bagi yang sanggup membuka/mengusut kasus ini).
Ekspresi kemarahan yang lebih keras juga datang dari akun Gieto Paparocknroll yang menulis, "Baa ndk kabacaruik juo urang maliek parangai kalian,,,! Wakil rakyat apo namo ncu" (Bagaimana orang tidak mengumpat melihat kelakuan kalian! Wakil rakyat apa namanya kalau seperti itu).
Dianggap Lazim, Publik Kian Apatis
Di sisi lain, potret miris juga terlihat dari sebagian komentar netizen yang mulai menganggap praktik manipulasi seperti ini sebagai hal yang lumrah terjadi di berbagai daerah. Akun Astra P Data berkomentar singkat, "Lazim sajo nyo tu" (Sudah lazim saja hal itu), yang kemudian ditimpali oleh Febrio Yandita Febrio, "Ala kaka lai ko.. Lah smo daerah ko sdonyo parah..." (Sudah lah... Sudah sama parahnya semua daerah ini).
Reaksi berantai di dunia maya ini menjadi sinyal kuat bagi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kejaksaan, maupun Kepolisian setempat. Publik Payakumbuh kini tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif; mereka mengawasi setiap jengkal perkembangan kasus ini dan menuntut transparansi radikal atas uang rakyat yang diduga kuat telah dirampok secara sistematis. Tunggu berita selanjutnya. (Tim Investigasi)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar