Jakarta (LN) – Sebuah pepatah lama mengatakan, "Jangan meludahi sumur tempat kita minum." Tampaknya, nasihat ini gagal dipahami oleh seorang konten kreator Indonesia di Inggris yang kini tengah menghadapi konsekuensi hukum dan finansial yang menghancurkan. Akibat konten yang dianggap merendahkan martabat bangsa, suaminya kini dipaksa mengembalikan seluruh dana beasiswa LPDP lengkap dengan bunganya.
Purbaya Sadewa Turun Tangan: "Kembalikan Uangnya!"
Kasus ini menarik perhatian serius Purbaya Yus Sadewa, Ketua Dewan Komisioner LPS sekaligus tokoh publik yang vokal. Ia menegaskan bahwa dana LPDP bukanlah "sedekah", melainkan dana abadi umat yang dibiayai oleh pajak rakyat Indonesia. Purbaya menyatakan bahwa menghina negara yang telah mendanai pendidikan tinggi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kontrak moral dan profesional.
"Silakan tidak suka Indonesia, tapi jangan menghina negara yang membiayai pendidikanmu," tegasnya. Berdasarkan informasi terbaru, suami dari kreator tersebut telah dihubungi dan menyatakan kesanggupan untuk melunasi "utang" beasiswa tersebut.
Efek Domino: Karier Hancur dan Dompet Kering
Hukuman finansial ini hanyalah puncak gunung es. Berikut adalah kehancuran berantai yang kini membayangi keluarga tersebut:
- Penyempitan Karier: Rekam jejak beasiswa yang bermasalah akan menjadi noda merah dalam background check akademis di Inggris. Karier sang suami sebagai peneliti terancam stagnan.
- Blacklist Nasional: Adanya potensi pemblokiran permanen dari instansi pemerintah Indonesia menutup rapat pintu karier di dalam negeri.
- Kejatuhan Ekonomi: Sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) tanpa pekerjaan tetap di Inggris, sang istri selama ini bergantung pada endorsement brand lokal Indonesia. Kini, dengan citra yang hancur, para pengiklan dipastikan akan menarik diri demi menjaga reputasi brand mereka.
Ironi "Paspor Anak" dan Jejak Digital
Puncak kemarahan publik dipicu oleh unggahan video yang menunjukkan sang kreator memamerkan paspor anaknya dengan narasi, "Cukup aku yang WNI, anakku jangan." Sikap jemawa ini dinilai sangat ironis mengingat gaya hidupnya di Inggris disokong oleh subsidi dari negara yang ia benci, sementara sumber penghasilan sampingannya pun berasal dari pengikut (audiens) asal Indonesia.
Kini, di tengah biaya hidup Inggris yang mencekik tanpa lagi adanya tunjangan living allowance, sang "Si Paling Inggris" harus berhadapan dengan realita pahit, kehilangan dukungan finansial negara dan kehilangan kepercayaan pasar Indonesia secara bersamaan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar