PADANG (LN) – Menghadapi eskalasi informasi di era digital yang kian turbulen, Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat mempererat simpul kemitraan dengan awak media. Bertempat di Esa Cafe di kawasan GOR.H. Agus Salim Padang, Kamis (12/2), sebuah pertemuan reflektif digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026 sekaligus untuk menyambut bulan suci ramadhan 1447 hijrah.
Acara ini menjadi manifestasi nyata dari tema besar: "Demokrasi Semakin Berdaulat, Ekonomi Semakin Kuat, Indonesia Semakin Kuat."
Kemitraan Strategis di Tengah Banjir Informasi
Kombes Pol. Sus Melawati Rosya, S.S., M.Tr.A.P., menekankan bahwa peran media telah bertransformasi menjadi mitra strategis kepolisian dalam menjaga social order (ketertiban sosial). Media massa adalah "jangkar" di tengah lautan informasi yang seringkali keruh oleh hoaks dan disinformasi.
"Kita tidak bisa lagi bekerja secara terisolasi. Polri butuh media untuk kanal klarifikasi, dan media butuh Polri sebagai sumber informasi yang kredibel. Di era di mana narasi bisa berbelok dalam hitungan detik, sinergi ini adalah benteng terakhir pertahanan informasi publik," ujar Kombes Pol. Sus Melawati.
Dukungan dari Insan Pers (Ketua IKW)
Senada dengan hal tersebut, Ketua Ikatan Keluarga Wartawan (IKW) David Efendi yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Humas Polda Sumbar. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa transparansi dari pihak kepolisian adalah kunci utama bagi wartawan dalam menjalankan tugas profesionalnya.
"Kami di IKW sangat menghargai ruang dialog yang dibuka oleh jajaran Humas Polda. Sinergitas ini bukan berarti kami kehilangan daya kritis, melainkan membangun jalur komunikasi yang lebih sehat. Jika akses informasi terbuka dan cepat, maka berita yang sampai ke masyarakat pun akan lebih akurat, minim spekulasi, dan tentu saja mengedukasi," tegas Ketua IKW di sela-sela diskusi.
Beliau juga menambahkan bahwa kolaborasi semacam ini penting untuk terus dirawat agar tidak ada sumbatan komunikasi antara penegak hukum dan pencari berita di lapangan.
Tantangan Etika di Ruang Digital
Selain aspek profesionalisme, diskusi ini juga membedah sisi moralitas bermedia. Buya Endi MN, dalam tausiyahnya, mengingatkan pentingnya literasi digital berbasis etika. Beliau menekankan bahwa setiap unggahan memiliki dampak sosial yang besar.
"Media sosial bisa menjadi ladang pahala jika digunakan untuk edukasi, namun bisa menjadi sumber perpecahan jika digunakan untuk memicu kebencian. Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan," ungkap Buya Endi.
Harapan ke Depan
Pertemuan yang berlangsung akrab ini ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga iklim kondusif di Sumatera Barat. Dengan adanya penguatan sinergi antara Humas Polda, IKW, dan berbagai organisasi pers lainnya, diharapkan ruang publik akan diisi oleh informasi yang mencerahkan dan mampu mendinginkan suasana (cooling system) di tengah dinamika masyarakat.
#red



Tidak ada komentar:
Posting Komentar