PADANG (LN) — Menjaga marwah pariwisata Sumatera Barat di level nasional bukanlah perkara mudah.
Diperlukan keseimbangan antara citra daerah sebagai destinasi unggulan dengan realitas ekonomi masyarakat di akar rumput. Di bawah kepemimpinan dr. Lila Yanwar, MARS, Dinas Pariwisata Sumbar berhasil membuktikan bahwa prestasi mentereng di tingkat pusat dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.
Menjaga Marwah di Level Nasional: Diplomasi Pariwisata Halal
Keberhasilan menyabet peringkat Runner-Up Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025 bukan sekadar seremonial.
Bagi dr. Lila, ini adalah bentuk penjagaan terhadap identitas dan marwah Sumatera Barat.
Standarisasi Layanan: Melalui alokasi anggaran Pemasaran Destinasi Pariwisata Provinsi yang mencapai Rp1,56 Miliar, standar pelayanan wisata ramah Muslim ditingkatkan.
Kepercayaan Pusat : Capaian ini memosisikan Sumbar sebagai rujukan nasional, sekaligus menarik minat investor dan wisatawan mancanegara untuk melirik Ranah Minang sebagai destinasi aman dan nyaman.
Menghidupkan Sendi Ekonomi Melalui UMKM Ekraf
Prestasi di tingkat nasional akan terasa hampa jika tidak berdampak pada dompet rakyat.
Menyadari hal ini, kebijakan dr. Lila fokus pada intervensi langsung terhadap pelaku Ekonomi Kreatif (Ekraf).
Fasilitasi Pasar : Anggaran sebesar Rp1,14 Miliar dikonversi menjadi panggung bagi UMKM. Produk kriya, fashion, dan kuliner lokal tidak hanya dipajang di etalase daerah, tetapi dibawa ke ajang pameran nasional.
Penyaluran Bantuan Sektor Transportasi Wisata: Realisasi pengadaan sarana (seperti hibah motor roda tiga/Viar senilai Rp185 Juta) menjadi bukti nyata dukungan logistik bagi operasional pendukung pariwisata di daerah, yang menyentuh langsung kelompok masyarakat kecil.
Pokdarwis : Garda Terdepan Penjaga Marwah Destinasi
Pemberdayaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjadi prioritas untuk memastikan destinasi dikelola dengan standar yang baik oleh warga lokal sendiri.
Penguatan Kapasitas: Melalui Jambore Pokdarwis dan berbagai workshop akreditasi destinasi, dr. Lila mendorong masyarakat lokal untuk menjadi tuan rumah yang profesional.
Kemandirian Desa Wisata: Dengan penguatan Pokdarwis, ekonomi desa berputar secara mandiri melalui pengelolaan homestay, jasa pemandu, dan penjualan produk lokal, sehingga ketergantungan pada bantuan eksternal dapat berkurang.
Kepemimpinan Visioner: Tegas dan Terukur
Gaya kepemimpinan dr. Lila yang disiplin dan detail-oriented memastikan setiap program memiliki output yang jelas. Pergantian nomenklatur anggaran dari murni ke perubahan menunjukkan adanya adaptasi strategi yang tajam ( sharp ) untuk merespons kebutuhan pasar pariwisata yang dinamis.
Penghapusan bahasa-bahasa birokrasi yang berbelit dan penggantian dengan aksi nyata di lapangan menjadi ciri khas kepemimpinan periode ini.
Pariwisata Sumbar kini tidak hanya bersinar di atas kertas laporan nasional, tetapi juga berdenyut di kedai-kedai kuliner, bengkel kriya, dan desa-desa wisata yang tersebar di pelosok Sumatera Barat.
Strategi "Top-Down" untuk prestasi nasional dan "Bottom-Up" untuk pemberdayaan ekonomi yang diterapkan dr. Lila Yanwar adalah formula tepat dalam menjaga keberlangsungan sektor pariwisata. Ini adalah upaya nyata dalam memuliakan marwah daerah sembari menyejahterakan rakyatnya.
#red



Tidak ada komentar:
Posting Komentar