PEKANBARU (LN) – Penemuan fantastis 160 juta batang rokok ilegal di Pekanbaru tidak disambut sebagai prestasi oleh publik. Sebaliknya, Barisan Lantang Para Aktivis Indonesia (BALAPATISIA) justru mencium aroma "busuk" di balik keterlambatan penindakan tersebut.
Dalam aksi unjuk rasa yang digelar di depan Kanwil DJBC Riau pada Senin (2/2/2026), massa menuding adanya dugaan perselingkuhan integritas antara oknum aparat dengan mafia rokok.
Bukan Prestasi, Tapi Kegagalan
Koordinator aksi menilai angka Rp399,20 miliar nilai barang bukti tersebut adalah tamparan keras bagi fungsi pengawasan Bea Cukai. Aktivis mempertanyakan bagaimana barang ilegal dalam skala masif tersebut bisa lolos dan mengendap di gudang sebelum akhirnya digerebek.
"Kami tidak butuh seremoni penyitaan. Kami butuh jawaban: kenapa baru sekarang? Mengapa dalangnya masih bebas?" tegas Alvieres Haloho, Korlap I aksi tersebut.
Desak Menteri Keuangan Bertindak Tegas
Tuntutan massa tidak main-main. Mereka mendesak Menteri Keuangan, Purbaya, untuk segera melakukan langkah-langkah radikal:
- Audit Investigatif: Memeriksa rekam jejak pengawasan DJBC Riau selama bertahun-tahun.
- Pembersihan Internal: Mencopot pejabat-pejabat yang dianggap gagal mendeteksi arus rokok ilegal sejak dini.
- Transparansi Dalang: Membuka identitas pemilik modal dan gudang ke publik, bukan sekadar menyita barang bukti.
Ancaman Eskalasi Massa
Dicky Pratama dan Cep Permana Galih selaku koordinator lapangan menegaskan bahwa ini hanyalah awal. Mereka menilai kerugian negara sebesar Rp213,76 miliar akibat kasus ini adalah bukti nyata lemahnya wibawa hukum di Riau.
"Jika dalam waktu dekat tidak ada pencopotan pejabat dan penangkapan aktor intelektual, kami pastikan aksi jilid dua akan mengepung kantor ini dengan massa yang lebih besar," ancam mereka.
Kini, bola panas ada di tangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Publik menunggu apakah mereka berani menyentuh para "pemain besar" di balik bisnis gelap ini atau hanya berhenti pada penyitaan barang mati.
#red



Tidak ada komentar:
Posting Komentar